Artikel

Artikel

28 Oct 2025

Artikel

Involusi dan Dampak Negatipnya Terhadap Industri
By: Triyanta


Secara sederhana, involusi berarti gerak ke dalam, bukan ke luar. Dalam konteks industri, involusi menggambarkan situasi ketika perusahaan terlalu sibuk bersaing ketat tanpa menghasilkan inovasi berarti. Akibatnya, energi terkuras hanya untuk bertahan hidup, bukan menciptakan nilai tambah baru.

Istilah ini awalnya dipopulerkan oleh antropolog Clifford Geertz ketika meneliti pertanian Jawa: petani bekerja lebih keras, hasil lebih banyak, tapi nilai tambah tetap stagnan. Fenomena yang sama kini terjadi di industri modern.

Saat ini Involution menjadi istilah yang popular di China, yang secara sederhana berarti persaingan berlebihan yang tidak produktif. Ini ditujukan kepada strategi dari BYD yang memberikan discount besar untuk mmeprtahankan pangsa pasar. Yang menurut pemerintah China straegi ini dianggap merugikan industri, khusunya automotive.



Persaingan Usaha yang Kian Ketat

Dunia bisnis memang tidak bisa lepas dari persaingan. Data dari World Economic Forum (2023) menunjukkan bahwa lebih dari 60% CEO global menganggap kompetisi kini lebih ketat dibanding satu dekade lalu, terutama karena globalisasi dan digitalisasi.

Namun, ketika semua perusahaan hanya fokus “bagaimana jangan kalah”, tanpa menciptakan diferensiasi, yang terjadi adalah persaingan harga (price war) atau saling menyalin strategi. Hasilnya: margin makin tipis, kualitas sering dikorbankan. Inilah problem serius yang dihadapi dunia industri saat ini.



Jurus Bertahan: Efisien atau Sekadar Gali Lubang?

Dalam situasi involusi, perusahaan mencari “jurus bertahan” agar tetap eksis. Caranya bisa berupa, pemangkasan biaya tenaga kerja, mengurangi kualitas bahan baku, membuat promosi besar-besaran walau menggerus laba.

Strategi ini mungkin memberi napas pendek, tapi tidak berkelanjutan. Menurut McKinsey Global Institute (2022), 45% perusahaan yang hanya fokus pada efisiensi jangka pendek akhirnya kehilangan daya saing dalam 5–7 tahun.



Persaingan Tidak Sehat: Efek Domino

Persaingan sehat seharusnya melahirkan inovasi. Tapi involusi justru memicu kompetisi yang tidak sehat: dumping harga, black campaign, monopoli terselubung, atau bahkan eksploitasi pekerja.

Contoh nyata adalah industri e-commerce Indonesia beberapa tahun terakhir. Banyak platform melakukan “bakar uang” untuk merebut pasar. Konsumen awalnya diuntungkan dengan harga murah, tapi dalam jangka panjang, model ini menimbulkan masalah keberlanjutan. Laporan iPrice (2022) menyebut, sebagian besar pemain kecil gulung tikar karena tak sanggup ikut-ikutan “bakar uang”.



Dampak bagi Stakeholder dan Industri

Dampak involusi bisa meluas ke seluruh ekosistem. Dan ini sudah mulai dirasakan banyak orang.

Para Pekerja gajinya ditekan. Bebverapa komponen upah yang sebelumnya didapatkan mulai hilang. Dengan alasan untuk efisiensi,agar produk bisa bersaing dengan competitor. Sementara beban kerja bertambah. Bahkan ada yanag sampai melakukan PHK massal. Demi menjaga Perusahaan tetap bertahan.

Dari sisi Konsumen juga merasakan bahwa kualitas produk yang biasa mereka beli menurun karena perusahaan menghemat biaya. Tidak seperti pada awal awal produk dikenalkan. Kenyaman dan umur produk lebih singkat.

Investor yang memproyekiskan isnvestasinya mendapatkan return yang bagus pada awalnya, sekarang mulai merasakan bahwa keuntungan jangka panjang tidak stabil. Namun dengan resiko yang lebih besar. Karena Tingkat keuntungan makin menipis. Hanya investor kelas kakap yang masih bisa bertahan , karean skalanay yang besar. Unrtuk investor kelas kecil harus menemi kenyatan rasio rofit yang sudah tidak sebanding dengan Tingkat resiko yang harus ditanggung.

Sementara dari segi Industri menjadi kehilangan inovasi karena post untuk pengembangan produk mengalami pengurangan anggaran. Dengan produk inovasi baru mengakibatkan pasar menjadi jenuh.

Data dari ILO (2021) menunjukkan, persaingan harga yang ekstrem di sektor manufaktur Asia berkontribusi pada tingginya angka job insecurity dan pekerja kontrak.



Alternatif: Persaingan yang Memberi Nilai Tambah

Persaingan itu memang keniscayaan, tapi bukan berarti harus berujung involusi. Yang memberi nilai tambah bagi kehidupan manusia. Meningkatkan kesejahteraan dan juga kenyamanan . Agar tercapai tujuan tersebut , maka dibutuhkan :

Inovasi produk: bukan sekadar lebih murah, tapi lebih baik.Dari segi kualitas maupun pelayanan.
Kolaborasi strategis: alih-alih saling menjatuhkan, perusahaan dalam rangkaian suatu produk bisa berbagi ekosistem. Yang dapat memberi nilai tambah secara kesuluruhan rantai produk dari tier terbawah hingga end user.
Orientasi keberlanjutan: memperhatikan pekerja, lingkungan, dan kepuasan konsumen. Nilai tambah bagi pekerja, lingkungan dan kepuasan harus menjadi landasan dalam penentuan cost suatu produk.
Contohnya bisa dilihat pada industri kendaraan listrik global. Tesla mungkin jadi pionir, tapi kompetitor seperti BYD dan Hyundai tidak sekadar menyalin—mereka menciptakan diferensiasi lewat teknologi baterai, harga terjangkau, dan integrasi ekosistem energi.



Kesimpulan

Involusi adalah jebakan: sibuk bertahan, tapi lupa berkembang. Dalam jangka pendek mungkin membuat perusahaan masih bernapas, tapi dalam jangka panjang, seluruh ekosistem—pekerja, konsumen, investor, bahkan industri—ikut menderita.

Persaingan yang sehat seharusnya tidak hanya menciptakan pemenang, tapi juga memberi nilai tambah bagi semua stakeholder. Karena dalam bisnis, kemenangan sejati bukan soal siapa yang paling lama bertahan, melainkan siapa yang bisa memberi manfaat terbesar bagi banyak pihak.

Pertanyaan untuk direnungkan:
Apakah perusahaan kita saat ini sedang berlari maju… atau hanya berputar-putar dalam involusi yang melelahkan?